29 Mei 2010

Kebersamaan

Satu hal yang selalu membuat saya kagum selama menjadi warga Sukajaya adalah kebersamaan. Dua peristiwa yang mungkin dapat menjadi bukti bahwa kebersamaan adalah "budaya asli" Sukajaya yaitu  event perkawinan dan kematian. Dua peristiwa yang situasinya seakan berada di titik ekstrim.

Perkawinan adalah gerbang menuju kebahagiaan, paling tidak itulah tujuan perkawinan yang sering didengungkan para pemuka agama. Maka tak heran, warga Sukajaya menyambut peristiwa perkawinan dengan kekompakan luar biasa. Dua kali saya turut serta dalam acara "ngundurkeun" (mengantar pengantin pria untuk melangsungkan pernikahan), membuat saya terbelalak. Wow... fantastis. Pengiring mempelai pria banyak sekali. Jika dilihat secara kuantitas, bisa mencapai 300 orang atau mungkin lebih. Kalau dihitung menurut wilayah administrasi, diperkirakan 1 RW. Di dalamnya turut serta ibu-ibu dan bapak-bapak, kaum tua, remaja, bahkan anak-anak dan balita. Fantastis !

Hal lain yang menarik dari prosesi sebuah perkawinan di Sukajaya adalah dalam rangka menunjukkan keseriusannya, pihak pengantin pria akan membawa beraneka macam "bingkisan" untuk dipersembahkan pada mempelai wanita. Ini juga tak kalah fantastis. Mulai alat-alat pribadi perempuan, makanan, beraneke kue, sampai tempat tidur, lemari, bahkan (kadang) hewan peliharaan turut serta dalam iring-iringan "mengantar pengantin pria". Secara kasar saya coba diperkirakan, bingkisan kecil hingga bingkisan besar bisa mencapai ratusan pcs. Alhasil, pihak pengantar pun tak mungkin kurang dari jumlah bingkisan yang ada.
***
Peristiwa kedua yang menunjukkan kekompakan warga Sukajaya adalah ketika ada salah satu warganya yang meninggal. Dalam hitungan beberapa menit setelah pengumuman yang biasanya disampaikan via pengeras suara dari masjid, hampir semua warga berbondong-bondong mendatangi rumah duka, untuk sekadar ikut berduka cita dengan membawa "amplop" berisi seribu-dua ribu- atau mungkin berapa puluh ribu rupiah, sebagai ungkapan turut empati atas duka yang menimpa keluarga yang ditinggal.

Sungguh, kematian -- apa pun adanya -- tentu akan meninggalkan duka mendalam terutama bagi keluarga dekat. Dan warga Sukajaya telah mengekspresikan rasa empatinya lewat kekompakannya mulai mengurus jenazah, serta keterlibatannya dalam prosesi sebelum bahkan setelah pemakaman. Pemandangan ini telah sangat jarang saya temukan, terutama di daerah perkotaan.
***

Sukajaya telah hampir 6 tahun saya singgahi. Berjuta kisah sempat teramati, tapi tak semua sempat tertuang. Kisah kebersamaan yang ditampilkan warga Sukajaya selalu membuat saya terenyuh. Kadang terlintas pertanyaan, berapa periode lagikah situasi seperti ini akan bertahan ? Apakah kebersamaan yang masih terjaga ini, hanya disebabkan karena kebetulan warga di sini secara umum memang masih memiliki keterikatan keluarga ? Semoga bukan itu alasannya. Entah. Wallahu alam.

0 komentar: