Bicara badminton, memang Indonesia. Atau Indonesia memang badminton ?
Itu dulu. Ketika baik tim Uber maupun tim Thomas kerap merajai hampir setiap event turnamen yang diselenggarakan, di tingkat dunia sekalipun.
Kini... prestasi badminton kita perlahan namun pasti, tersingkirkan, dilibas oleh China yang kian perkasa. Lebih-lebih tim uber, yang tak lagi terdengar gaungnya. Hmmmh... ingin rasanya menyaksikan kembali permainan cantik dari pemain kita seindah yang Ivana Lie, atau Susi Susanti suguhkan. Atau smash ala Lim Swie King.
Stop, tentang badminton di tanah air biar para ahli dan menpora yang bicara. Biarkan pula menkeu mengalokasikan anggaran untuk mendanai pelatihan dan pengkaderan pemain-pemain muda berbakat agar siap berlaga, merebut kembali kejayaannya.
Ini kisah saya. Seorang siswa yang baru mau belajar badminton. Boleh dibilang, meski tetap semangat, saya adalah siswa paling 'boyot' . Lapangan serasa terlalu luas, sehingga pukulan-pukulan saya tak jarang tak mampu nyebrang. Smash yang diluncurkan pun kadang salah alamat. Berlari, seringkali ngos-ngosan. Jangankan bermain single, bermain double pun seringkali kehabisan energi.
Sekelumit kisah badminton di kalangan ibu-ibu Sukajaya sangatlah menarik. Mereka sudah sangat lincah menggerakkan tangan,kaki, serta badan demi menaklukan bola, hingga lawan tak berkutik. Entah, saya tak tahu... berapa tahun waktu tempuh seseorang untuk sampai pada tahap selincah itu. Yang pasti, bicara badminton ibu-ibu, Sukajaya adalah gudangnya (paling tidak sejauh yang pernah saya lihat).
Sayang, telah hampir 2 tahun saya berhenti, bermain. Badanpun telah mulai banyak protes. Tak lagi saya alami, keringat segar mengucur deras dari sela-sela sendi. Batuk pilek pun kerap mengiringi hari-hari padat saya. "Saya kangen... ingin kembali berolah raga, badminton khususnya", Itu saja.
30 Apr 2010
Badminton, ala Ibu-Ibu Sukajaya..............
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar